Friday, 15 June 2018

Sepenggal Cerita Di Balik Proses Persalinanku

Bismillahirrahmanirrahim..
Selasa, 29 Mei 2018/13 Ramadhan 1439 H
Hari ini usia janin dalam kandungan saya sudah 37 weeks 6 days. Ah, tidak terasa sekitar dua minggu lagi (13 Juni) jika menurut HPL (hari perkiraan lahir) saya akan menghadapi medan jihad terbesar bagi seorang wanita yaitu; proses persalinan. Dua minggu lagi saya akan menemui buah hati kami yang kata dokter dari hasil USG berjenis kelamin laki-laki.
Pagi itu seperti biasa saya habiskan dengan berjalan kaki ba’da shubuh di sekitaran kompleks. Kegiatan ini memang rutin saya kerjakan setelah cuti panjang, setiap jam 6.00-6.30. Dilanjutkan dengan mencuci baju dan beberes kamar. Setelah semua beres, seperti biasa saya mengajak si calon baby ngobrol. Ya, saya memang suka mengajaknya mengobrol sejak menginjak usia 4 bulan, karena katanya di usia kandungan tersebut janin sudah bisa mendengar dan diajak berkomunikasi
“Assalamu Alaikum Sayang, udah masuk panggul ya Nak? Kalau bisa lahirnya setelah lebaran aja ya Nak biar puasa dan tarawih bunda bisa full, pas ayah juga lagi cuti.”
“Sayang, nanti kalau sudah waktunya, cari jalan lahir sendiri ya. Nanti bunda bantu dorong. Insya Allah bunda tahan sakitnya “
Kalimat-kalimat di atas sering saya ucap sebagai sugesti untuk si calon baby. Dulu, jauh sebelum hamil, bahkan mungkin jauh sebelum menikah saya pernah mengganggap berbicara dengan janin di kandungan adalah sesuatu yang aneh. Apakah ia akan mengerti? Atau bahkan apakah ia mendengar?
Tapi sejak hamil, keyakinan saya berubah. Janin adalah makhluk hidup. Ia dapat memahami bahasa bundanya, meski tanpa suara, bahkan jika bundanya bahagia atau stress bayi juga bisa merasakannya. Karena itu calon orangtua harus tetap menjaga komunikasi dengan calon bayinya. Yap, jangan salah kira bayi di rahim tidak perlu diajak bicara. Perlu, bahkan harus! Karena itulah tiap hari, setiap ingin melakukan sesuatu saya berusaha melibatkannya dengan mengajaknya bicara, mulai dari aku bangun tidur hingga tidur kembali.
Kembali ke kegiatan saya di hari itu. Pagi harinya sekitar pukul 10.30, saya merasakan perut seperti dililit, seperti nyeri haid tapi lebih kuat, dan sakitnya bertambah ketika saya bawa baring. Saya mulai bertanya-tanya “apakah ini yang disebut kontraksi?”. Saya mulai siaga akan tanda-tanda melahirkan yang lain yang sempat saya pelajari dan mulai menghitung durasi waktu kontraksi. FYI, menurut artikel yang  saya baca, kontraksi palsu terjadi per 30-60 menit sekali. Ini biasa terjadi di trimester akhir kehamilan, bisa juga merupakan pertanda akan datangnya kontraksi asli. Meskipun sudah merasakan mules dan kontraksi, namun kontraksinya masih bisa saya tahan.
Pukul 17.00 menjelang buka puasa keluar lendir darah disertai darah menggumpal seperti darah haid yang lumayan banyak. Saya berusaha untuk tidak panik meskipun saya tahu kalau ini adalah tanda persalinan kian dekat, Saya lalu berpikir “Is this the time”? Meskipun begitu saya tetap melanjutkan puasa karena saya pernah membaca kalau darah yang keluar itu adalah darah serviks yang menutup rahim yang mulai membuka menjelang persalinan saat si baby mencari jalan lahir, bukan darah najis seperti darah haid sehingga masih bisa beribadah.
“Gimana Ma? Apa kita ke RS saja?” tanyaku sama Mama.
Mama yang juga mulai panik meminta pendapat adekku, sambil memeriksa perlengkapan persalinanku yang sudah saya siapkan jauh hari sebelumnya, memastikan semuanya sudah lengkap dan tinggal diangkut saat ke RS.
“Tunggu sebentar lagi, kayaknya masih pembukaan awal itu. Mending kakak jalan-jalan dulu aja, paling sampai RS juga disuruh jalan lagi”, jawab adekku.
Semakin lama jeda kontraksi kian dekat per lima menit sekali. Akhirnya saya menelpon dan memberi tahu suami kalau mungkin hari ini atau besok saya akan melahirkan. Tidak lama setelah diinfo sama suami, Mama mertua datang menjemput dan pukul 21.00 saya akhirnya dibawa ke RS Hermina Makassar untuk diperiksa dengan masih menahan kontraksi.
Sesampainya di RS, saya langsung masuk ruang bersalin dan tidur di atas ranjang. Bidan memeriksa pembukaanku. Hmm ternyata benar apa yang saya baca sebelumnya, begini toh cara memeriksa dan mengetahui pembukaan berapa. Tak perlu kuberitahu bagaimana caranya ya. Duh.. Masya Allah baru memeriksa pembukaan saja sakitnya udah begini, gimana kalau nanti proses lahirannya, pikirku mulai khawatir.
Saya meringis kesakitan, beberapa kali bidan gagal memeriksa pembukaanku.
“Pembukaan tiga longgar, Bu. Nanti kita cek lagi ya jam 00.00.” katanya setelah berhasil memeriksa pembukaanku.
FYI, ada sepuluh pembukaan dalam proses persalinan. Sebelum pembukaan lengkap (sampai ke-10) sang Ibu tidak diperbolehkan mengejan karena dapat meyebabkan pembengkakan dan robek  pada jalan lahir.
Setelah memeriksa pembukaan, bidan memeriksa detak jantung janinku. “Normal.” katanya. Dilanjutkan memeriksa tensiku.
“Tensinya tinggi, Bu, 140/90” ucap bidan setelah memeriksa tekanan darahku. Raut wajahnya tidak mengenakkan pertanda tensi darah yang tinggi tidak baik untukku.
“Ibu tidak usah stress biar lahirannya lancar-lancar, biasa aja bu yah, biar bayinya di dalam juga gak ikutan stress”, kata bidan mengingatkanku.
Pukul 23.00 WIB. Kontraksi kian kuat, darahpun mulai mengalir lewat jalan lahir. Saya jadi teringat kata seorang teman yang sudah melahirkan terlebih dahulu. Katanya “Kontraksi itu rasanya seperti kamu mau BAB tapi harus ditahan dan tidak boleh mengejan dulu sebelum pembukaan lengkap.”
Sejak itu saya selalu membayangkan rasanya. Dan.. saat ini saya sungguh merasakannya! Allahurabbi, beginikah yang kerap dikatakan dalam firmanNya bahwasanya seorang ibu yang melahirkan rasanya seperti dua puluh tulang dicabut secara bersamaan? Seluruh tulang dan sendi rasanya mau patah, saat kontraksi datang sakitnya sampai tembus ke punggung belakang.
Tubuh manusia hanya dapat menanggung sampai 45 titik rasa sakit. Namun pada saat melahirkan, seorang ibu merasakan hingga 57 titik rasa sakit. Hal ini setara dengan 20 tulang retak secara bersamaan pada satu waktu.
Sambil meringis menahan kesakitan, saya masih berusaha mengaji dan berzikir, sambil menarik nafas panjang dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut. Bidan mengajari cara relaksasi untuk mengurangi nyeri kontraksi. Sayapun kian sering berkemih, hal ini katanya dikarenakan bayi semakin turun dan menekan kandung kemih.
Sekitar pukul 00.10 bidan datang dan memeriksa kembali pembukaanku. Lagi-lagi saya harus menahan nyerinya. Mungkin bidannya sampai bete melihatku susah diperiksa jumlah pembukaannya.
“Suster, boleh tidak gak usah sering-sering periksa pembukaannya, belum kok ini, jeda kontraksinya masih lama soalnya, nanti aja saat kontraksinya kian dekat baru sekalian periksa, kataku.
“Maaf bu, sudah prosedur persalinan seperti itu, setiap 3 jam sekali harus di cek pembukaannya”, kata Bu Bidan
“Pembukaan enam Bu, empat centi lagi. Kalau Ibu masih bisa jalan, silahkan jalan dulu untuk mempercepat pembukaannya, jangan lupa makan juga ya Bu supaya ada tenaga saat mengejan nanti, katanya kemudian.
Lagi, tensiku dan denyut jantung bayi diperiksa setiap tiga jam namun masih saja tinggi. Ternyata memang tensi darah tinggi tidak baik bagi ibu yang akan melahirkan. Apalagi kadar hemoglobinku sempat rendah saat cek darah sebulan sebelum melahirkan. Ini beresiko pendarahan persalinan.
But this is life. I take risks. For my baby only.
Waktu terus berjalan. Setiap kali rasa sakit itu datang, saya harus menarik nafas panjang lewat hidung dan melepaskannya lewat mulut. Makin lama seolah tak ada lagi jeda. Beruntung, Mama terus menemani di sisi dan mengelus-ngelus punggungku saat gelombang cinta itu datang. Rasanya saya tidak kuasa ditinggalkannya barang sedetikpun.
Pukul 03.00 WIB, saat Mama sedang sholat malam, gelombang cinta hadir kembali. Karena tidak ada yang menguatkan, refleks saya berteriak seraya mengejan. Bidan segera datang.
“Bu, tiup, tiup, tiup. Jangan mengejan ya Bu, kasihan nanti bayinya di dalam stress.”
Ekspresi wajahku yang tadinya hannya berupa ringisan, sekarang air mata mulai membanjiri pipi.
“Ma..kenapa sakit sekali? Gak kuat Ma” ucapku terbata.
Begitu memang Nak, bismillah bisa ya. Kamu harus kuat, jangan banyak mengeluh, demi anakmu.” Mama menguatkan. Kulihat mata Mama tampak berkaca-kaca, mungkin juga ikut merasakan kesakitanku. Akhirnya saya berusaha tegar dengan menggenggam tangannya kuat-kuat walau sambil menahan sakit yang luar biasa. Teringat dalam benakku wajah, perjuangan dan cintanya padaku. Terbayang bagaimana ia berusaha melahirkanku dua puluh sembilan tahun silam.
Pukul 03.30, alhamdulillah pembukaan 8! Dua lagi ya Allah, batinku. Saat itu saya mengantuk luar biasa, namun gak bisa tertidur karena gelombang cinta yang hadir jedanya kian dekat.
Pukul 06.30 di cek lagi masih pembukaan 8!
Pukul 08.00, masih juga pembukaan 8! Allahurabbi, sudah lima jam masih pembukaan delapan? Kapan pembukaan akan lengkap? Saking sakitnya saya sampai ingin segera saja pembukaannya lengkap. Akhirnya dokter menginduksi agar pembukaannya cepat, karena memang jeda sakitnya agak melambat.
“Suster, gak salah kah? Selama 5 jam tadi saya kontraksi terus loh, masa pembukaannya gak nambah-nambah?”
“Iya bu, masih pembukaan 8, tapi sekarang 8 longgar. Sabar yah bu, Insya Allah sebentar lagi pembukaan lengkap kok.
Setelah diinduksi, sakitnya makin menjadi dan kontraksinya kian dekat, saya sampai nangis-nangis menahan nyerinya. Saat itu yang mendampingiku k’Umi karena Mama gak kuat dan gemetaran melihat proses menjelang persalinanku.
Pukul 08.30, kali ini dokter yang memeriksa pembukaanku. Pembukaan 9! One step more.
“Kak..sakit sekali..Kak..” gumamku tak sadar.
“Istigfar dek..astagfirullahaladzim..Laa Ilaahaa Illallah..Laa Haulaa Wa Laa Quwwata Illa Billah”
“Kapan..sa..ya..boleh..ngejan..”
“Iya sebentar lagi Bu. Sebentar lagi Ibu boleh ngejan dan bertemu dedek, kata bu Dokter.
Pukul 8.45 Dokter datang kembali. Ia beserta bidan yang lain mempersiapkan peralatan sambil menatap jam dinding. “Sebentar lagi ngejan ya, Bu. Siapkan energinya. Makan dulu.”
K’Umi menyuapiku bubur dan kurma. Sekuat tenaga saya berusaha mengunyah di tengah sakitku.
Pukul 8.50 pembukaan lengkap, alhamdulilah. Tensiku dicek lagi, alhamdulillah kali ini tekanan darahku menurun. Masya Allah padahal sepanjang malam tensiku naik terus. Karena ketubanku tidak pecah juga padahal proses persalinan udah tiba, akhirnya dipecahkan sendiri oleh dokter.
Bidan mulai mengatur posisiku, kedua kaki ditekuk dan membuka lebar, tangan dijepit di antara lutut dan paha. Ia juga mengajariku mengejan.
“Mengejan di pan***, JANGAN di perut ya, Bu. Ingat! Mengejan hanya saat kontraksi hadir.”
Dari bu bidan saya tahu bahwa mengejan hanya boleh dilakukan ketika kontraksi sudah di titik puncak, karena jika tidak, sia-sia saja, bayi tidak akan bergerak keluar.
Di saat-saat seperti ini entah mengapa justru kontraksi berjalan lebih lambat. Padahal saya sangat membutuhkannya!
Ketika kontraksi hadir, saya menarik nafas panjang dan mulai mengejan. Tarik nafas pendek, mulai mengejan lagi. Bayiku mulai terdorong dan terlihat kepalanya. Rasanya..Masya Allah jangan ditanya, saking sakitnya berteriakpun saya sampai tak mampu.
“Tuh, Bu, sudah terlihat rambutnya. Kurang panjang ngedennya.”
Sekali lagi, kontraksi hadir. Bayiku terdorong tapi karena nafasku tidak panjang, ia kembali masuk ke dalam.
“Bu, kasihan bayinya, keluar masuk terus ngedennya salah bu, jangan di leher” kata sang bidan.
Pukul 09.00, bayiku belum juga mau keluar. Peluh membasahi tubuhku. Perasaanku mulai tidak karuan, benar-benar khawatir terjadi apa-apa padanya, apalagi saya pernah membaca kalau bayi kelamaan di jalan lahir bisa membuatnya kehabisan oksigen. Saya nyaris kehabisan tenaga. Air mataku menetes bercampur peluh.
Rasa takut mulai hadir. Disusul dengan rasa ragu. Mampukah saya melahirkannya dengan normal? Atau harus operasi saja karena saya nyaris sudah tak mampu menahan sakitnya?
Dokter kemudian mengajariku metode lain. Disuruhnya saya balik ke kiri. Katanya tidak apa-apa mengejan dengan posisi itu. Terasa sekali ada yang menganjal di jalan lahir. Itu kepala anakku, ya Allah ia sudah hampir keluar! Tapi saya belum mampu mengeluarkannya! Rasanya perasaanku nyaris hancur…
Pukul 09.03 suamiku akhirnya datang. Dia dan K’Umi menemaniku di ruang bersalin, sambil berusaha menguatkanku.
Saya menarik nafas panjang sambil menutup mata. Kupandangi suamiku, ada secercah harapan di matanya.
“Ya Allah Yaa Rahman, saya mohon bantulah mengeluarkan bayiku. Give me the strong! Lindungilah ia. Kuatkanlah saya ya Allah! Laa hawla wa la quwwata ila billah..” saya membatin masih dengan menangis.
“Bismillahirrahmanirrahim ya Allah bantu aku!” teriakku sekencang-kencangnya saat kontraksi hadir lalu mulai mengejan. Kutarik nafas pendek, lalu mengejan lagi.
Saya merasa kelelahan yang begitu hebat. Entahlah apakah bayiku sudah keluar atau masih di dalam. Saya hanya bisa menutup mataku yang masih tergenang air mata.
Tidak lama kemudian terdengar tangis bayi. Allahuakbar itu suara bayiku, bayi kami! Diletakkannya ia dalam pelukanku segera untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Kutatap wajah suamiku, ia tampak terharu, begitu juga dengan K’Umi yang tampak meneteskan air mata. Saya justru terdiam, seolah masih tak percaya kalau saya telah melewati semua proses ini. Kuelus tubuh hangat bayi kami yang masih terus menangis, mencari sumber makanannya..
Sudah tidak kupedulikan lagi rasa sakit yang harus saya tanggung saat dokter menjahit luka robekku. Katanya jahitannya lumayan banyak, ada 15 jahitan luar dan dalam karena saya mengejan sambil mengangkat pantat. Meskipun saya sudah tahu teorinya namun saya sudah tidak bisa berpikir yang lain, yang saya pikirkan waktu itu yang penting bayiku cepat keluar dengan selamat.
Rabu 30 Mei 2018 pukul 09.05 WITA, bertepatan dengan 14 Ramadhan 1439 H saya berhasil melahirkannya secara normal dalam keadaan sehat. Alhamdulillahirabbil’aalamiin.. Allahu Musta’an.
Alhamdulillah tidak ada rasa parno ataupun cemas jelang persalinan. Saya hanya berusaha terus berpikir positif dan husnudzhon pada kuasa Allah melalui tubuhku dan janinku. Bahkan meskipun banyak orang yang melarangku berpuasa, saya tetap berpuasa dengan keyakinan penuh kepada Allah kalau bayiku baik-baik saja dan tidak kekurangan nutrisi meskipun bundanya berpuasa.
Peristiwa hari itu adalah momen terpenting dan bersejarah dalam hidupku. Hari dimana Allah menunjukkan kuasanya atas apa yang sempat saya sangsikan bahwa diri ini mampu.
Sembilan bulan dua minggu (38 weeks), maju 2 minggu dari HPL, teringat kembali perjuangan tmengandung dan ngidam dengan susah payah, melewati hari-hari kehamilan seorang diri di perantauan, diliputi perasaan sakit, cemas dan khawatir, namun membayangkan kelak ada sesosok bayi mungil yang akan memanggilku ibu, semua keluhan-keluhan selama masa kehamilan hanya saya anggap sebagai angin lalu saja. Saya selalu menikmati hari-hari bersama sang baby yang di dalam rahim. Saya selalu menunggu saat-saat si baby bergerak, menendang dan mengeliat di dalam perut, dan yang paling saya nantikan tentunya adalah waktu persalinan yang mempertemukan saya dengan si baby. Masya Allah. Fabiayyi Robbikuma Tukazziban.
Lagi lagi benarlah kata Allah bahwa seorang ibu yang melahirkan berada antara hidup dan matinya. Oleh sebab itulah Allah menghadiahkan gelar syahid pada wanita yang meninggal saat melahirkan serta syurga bagi orangtua yang kehilangan anaknya yang dilahirkannya.

Baca juga (The First Trimester Of Pregnancy)
Perjalanan masa kehamilan dan peristiwa persalinanku benar-benar menunjukan padaku bahwasanya manusia diciptakan awalnya dari setetes mani menjadi sebesar biji wijen tapi kemudian Allah kembangkan menjadi janin yang utuh. Ya, seperti itulah setiap dari kita bermula. Maha besar Allah atas segala ciptaanNya.
Mungkin perjuanganku belumlah ada apa-apanya, masih banyak ibu melahirkan lainnya yang perjuangannya jauh lebih berat daripada saya. Meski begitu, saya yakin setiap bayi memiliki cerita kelahirannya masing-masing. Ia berhak memilih, para ibunyalah yang membantu mewujudkannya.

Baca juga (The Second Trimester Of Pregnancy)
Duhai wanita, berbangga hatilah engkau yang telah berhasil melalui masa kehamilan dan melahirkan buah hatimu. Disitulah Allah letakkan kemuliaan padamu..
Dahulu ketika banyak orang bertanya padaku apa prestasi terbaikku, kadang saya jawab bisa menang lomba A atau bisa naik jabatan di perusahaan B. Tapi kini….
“Prestasi terbaik bagiku bukanlah menang lomba, dapat beasiswa, ataupun naik jabatan lainnya. Prestasi terbaik bagiku adalah melahirkanmu secara normal dalam keadaan sehat wal’afiat, Nafiz Tsaqib Al Afasy. I love you.” 

Baca juga (The Third Trimester Of Pregnancy)

No comments:

Post a Comment

Entah Apa Yang Merasukimu Bu Sukma

Setelah membandingkan konde dengan cadar, suara kidung dengan azan, sekarang Bu Sukma kumat lagi dengan membandingkan Nabi Muhammad denga...