Thursday, 9 June 2016

Risalah Nikah

1. Latar Belakang

Nabi berkata “Menikah adalah sunahku”. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunahku, ia bukan termasuk golonganku. Menikahlah, karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian dihadapan seluruh umat. Barangsiapa memiliki kemampuan untuk menikah, menikahlah! Dan, barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya dari berbagai syahwat (HR. Ibnu Majah)

Melihat hadits diatas, jadi jelas kan kalau anjuran menikah itu adalah wajib hukumnya bagi orang-orang yang sudah mampu. Bahkan nabi dengan tegas mengatakan “Hey, kalau kalian punya kemampuan tapi sengaja tidak mengikuti sunnahku (menikah), maka kalian bukan termasuk golonganku. Nah loh, siapa diantara kita yang tidak ingin diakui nabi sebagai umatnya? Pastinya kita semua ingin kan sahabat? Karena itu harusnya muslim/muslimah lajang setidaknya mengupayakan nikah segera, apalagi jika sudah mampu, jangan ditunda-tunda yah! Karena menikah itu adalah menapak dijalan sunnah. Dengan menikah kita akan menemukan surga dunia sebelum surga akhirat. Baiti Jannati, saya yakin kita semua sepakat kalau mencintai pasangan yang telah halal adalah kenikmatan yang tiada bandingannya. Bayangkan kalau kita mengikuti Rasulullah, maka cinta yang kita berikan akan memberikan pengorbanan yang indah. Karena cinta memang sanggup mengubah kita menjadi orang yang senang melakukan pengorbanan, apalagi berkorban untuk orang yang kita cintai. Cintalah yang menggerakkan ruh untuk membuat pasangan kita bahagia. Dalam jejak-jejak waktu yang akan kita arungi berdua dengan pasangan, kita mencintainya, menyayanginya, bahkan kita rela melakukan apa saja yang mampu membuat pasangan kita bahagia. Sang istri rela sepanjang hidupnya melayani dengan tulus dan berkorban untuk suaminya. Meski penat menyapa masih menyunggingkan senyum ketaatannya. Sang suami rela sepanjang hidupnya bekerja mati-matian banting tulang, pontang panting memeras keringat agar kebutuhan keluarganya tercukupi dan tanpa kurang suatu apapun. Adakah yang lebih indah dari kisah pengorbanan tersebut? Karena menikah adalah meneladani sunah Rasulullah. Dengan mengikuti apa yang menjadi sunnah beliau, kehidupan kita in syaa Allah akan penuh cinta dan kasih sayang. Kebaikan yang ada pada diri dan keluarga kita akan terus dan terus bertambah.

2.      Persiapan Menuju Pernikahan

Sepenting apa sih mempersiapkan bekal sebelum melangkah ke jenjang pernikahan? Apa iya kalau kita tidak mempersiapkan bekal rumah tangga bakalan tidak langgeng nantinya? Kan persiapan itu bukan jaminan rumah tangga bakalan adem ayem dan tidak dilanda prahara nantinya?

Mungkin memang benar kalau persiapan yang kita lakukan bukan jaminan kelanggenan rumah tangga nantinya, tapi setidaknya dengan adanya persiapan kita bisa memprediksi dan mengantisipasi persoalan yang bakalan terjadi setelah membina rumah tangga nantinya. Pasti beda dong nilainya siswa yang mengikuti ujian dengan belajar dan siswa yang tidak siap bertarung melawan soal-soal ujian kan? Nah, begitupun dengan pernikahan. Kalau perlu kita buat proposal nikah agar persiapan kita lebih matang. Yah..mungkin istilah ini masih terkesan ribet dan formal, karena banyak yang belum terbiasa. Tapi, percaya deh, proposal nikah gak seribet yang dikira kok, buatlah proposal nikah sesederhana mungkin tapi usahakan kaya akan makna. 

Sebagaimana kita ketahui, proposal berasal dari kata “propose” yang artinya ajakan. Jadi, dengan membuat proposal kita bermasud mengajak sesorang untuk berlayar mengarungi gelombang kehidupan bersama.  Nah, bila proposal nikah adalah ajakan untuk berlayar, kira-kira adakah yang mau diajak berlayar agar karam ditengah laut? Atau mengajak berlayar untuk sekedar diam ditengah laut, terombang ambing ombak, tanpa tahu pulau tujuannya? Kan tidak banget dong yah jika kita berlayar tanpa arah. Dengan adanya “pulau yang dituju”, tentu rute kesana menjadi lebih jelas kan? Misalnya nih, kita ingin menjadikan “Ingin membangun generasi Rabbani yang mencintai Qur’an” sebagai pulaunya, maka tentu sudah bisa terbayang “rute”nya seperti apa. Simpelnya, untuk event resepsi pernikahan saja yang diadakan satu hari, tentunya perlu proposal yang diberikan kepada event organiser agar eventnya berjalan dengan lancar. Proposal yang berisi susunan panitia, konsep acara, dan anggaran pasti dipegang ketua penyelenggara, tujuannya tidak lain dan tidak bukan agar resepsinya berjalan mulus. Betul? Nah..resepsi yang satu hari saja digarap begitu serius dengan adanya proposal, bagaimana dengan kehidupan pernikahan yang akan kita jalankan? Pastinya jauh lebih penting dong daripada sekedar resepsi yang hanya terjadi satu hari? Dengan adanya propoposal kita jadi bisa membayangkan bagaimana kehidupan pernikahan yang akan kita jalankan nantinya. Jadi isilah proposal kita dengan jujur,asli, dan tidak direkayasa. Bisa saja sih, nikah tidak perlu pusing mikirin hal-hal ini, tapi nanti bakalan kerasa deh setelah dijalani. Menikah tanpa memikirkan hal-hal detail dan esensial dan menikah dengan sebelumnya telah mendesain hal-hal tersebut akan terasa jauh banget bedanya, karena menikah haruslah mempersiapkan kemampuan dan memperturutkan kemampuan

3.      Cek Niat! Sudah Benarkah?

Semua ibadah yang kita lakukan berawal dari niat kan sahabat? Bahkan segala hal yang dilakukanpun dinilai dari niatnya. Meskipun niat ini terkadang hanya kita dan Tuhan yang tahu, banyak orang yang menyepelekan dan terkesan mengacuhkan, dan banyak pula yang masih belum tahu dan belum mencek dan ricek niatnya sebelum melakukan pekerjaan tertentu, termasuk menikah.

Ketika kita ditanya “ Niatmu menikah apa sih?”. Mungkin pertanyaan yang paling dominan dijawab adalah “Melaksanakan sunah rasul”, “Menyempurnakan setengah agama”,”Melestarikan keturunan”, dan masih banyak lagi versi lainnya. Jawaban-jawaban tersebut adalah jawaban yang umum, bahkan terkesan klise. Namun, sadarkah kita bahwa ternyata tanpa kita sadari banyak dari kita yang niatnya sudah melenceng dari yang seharusnya. Buat yang belum menikah coba resapi betul-betul niat yang muncul dari dalam hati.

Yakinkah kita kalau niat kita menikah karena benar-benar ingin menyempurnakan setengah agama? Bukan karena kita sudah terlalu bosan dengan kehidupan? Bosan dengan kesendirian yang berkepanjangan? Atau tidakkah karena “panas” terhasut euforia menikah? Karena terlalu banyak kompor diluar sana yang sering bertanya “Kapan Nikah” sehingga kita menjadikan hal tersebut sebagai beban? Atau jangan-jangan niat kita menikah hanya karena “iri” dengan teman-teman yang terlebih dulu menikah? Teman seangkatan yang bahkan bukan lagi mengirim undangan pernikahan, tapi sudah banyak yang malah mengirim undangan akikah anak kesekian, sehingga kita juga ingin membuktikan bahwa “ saya juga bisa menikah kok”. Nah kan, ternyata banyak sekali niat yang salah tanpa kita sadari.

Saat keputusan menikah sudah kita ambil, ayo cek lagi niat kita! Jangan sampai semuanya hanya kedok dan topeng yang menyamarkan niat kita? Yuk, luruskan lagi niat kita agar tidak ada topeng-topeng itu. Jernihkan kembali niatnya, kalau perlu mohon sama Allah agar membantu kita menjernihkannya, agar Dia semakin memantaskan diri kita untuk melangkah ke gerbang pernikahan. Amin.

4.      Mengurai Penghambat Pernikahan

Seringkali orang bertanya kepada kita? “ Tunggu apalagi, kok belum nikah juga?”. Nah kebanyakan orang yang mendapat pertanyaan demikian akan nyerocos panjang lebar mengemukakan alasan ini itu sebagai penghambat pernikahannya. Ada beberapa alasan yang paling mendominasi yaitu; 
  • Restu orangtua


Restu orangtua sangatlah penting, karena Ridha Allah tergantung dari ridha orangtua. Orang yang berbakti kepada orangtuanya akan lebih mudah dikabulkan doanya. Begitupun murka Allah terletak pada murka orang tua. Karena itu sebelum menikah kita harus sudah dapat restu yah sahabat. Kalau masih ada yang calonnya belum direstuin, ayo komunikasi lagi dan yakinkan orang tua. In syaa Allah dengan tekad yang kuat pasti mereka menilai usaha kita dan akhirnya memberikan restunya. 

  • Kemapanan

Haruskah kita nunggu mapan dulu baru menikah? Yuk, kita coba itung-itungan dulu, kalau nunggu mapan dulu seperti apa. Mungkin secara harfiah mapan mengandung banyak versi, dan versi kebanyakan orang mapan itu adalah yang punya rumah dulu, punya mobil dulu, dan punya macam-macam dulu. Hey, kalau kita nunggu itu semua tercapai, kita mau nikah diumur berapa? Tak percayakah kita kepada janji Allah? Kalau yang miskin Dia akan mampukan? Karena itu kita janganlah terlalu berpatokan dengan materi, bisa-bisa kita selamanya sendirian. Murni hanya gara-gara kita tidak percaya janjinya. Ah..tak usahlah beranggapan kita tak punya uang, Ini bukan soal kita yang tak punya uang, tapi soal kita yang tak punya keyakinan sehingga iman kita kelelep dan tertimbun di balik kemapanan. 

  • Adat istiadat


Adat istiadat adalah penghambat nikah yang paling banyak dikeluhkan orang. Ada yang bilang tidak boleh menikah dengan suku ini atau suku itu. Menikah harus satu suku dan budaya. Belum lagi adat yang mengharuskan laki-laki memberikan sejumlah uang ke pihak wanita sebagai uang seserahan, dan tidak jarang yang dimintapun jumlahnya lumayan besar, sehingga banyak lelaki  yang akhirnya memutuskan mundur. Padahal adat bukanlah salah satu rukun nikah. Dan terlebih lagi hanya lebih ke gengsi. Gengsi jika nikah sederhana, gengsi jika maharnya sedikit, gengsi jika tidak mengundang ribuan tamu, akhirnya demi mengikuti adat tak jarang banyak yang berutang kiri kanan, akhirnya nikah yang seharusnya bahagia akhirnya jadi penyebab stres karena mikirin ngutang. So,that's way tidak usahlah kita terlalu mementingkan adat yang penting rukun sama syarat nikahnya bisa terpenuhi, karena itulah yang merupakan syarat sahnya pernikahan. 

  • Trauma Masa Lalu

Memiliki masa lalu yang kelam memang wajar menjadikan kita trauma untuk melangkah. Saya yakin setiap orang memiliki masa lalu. Namun, menjadikan masa lalu sebagai batu hambatan yang tak kunjung berkesudahan dan membuat kita tidak bisa move on. Nah..ini yang salah. Karena dampak trauma masa lalu akan mempengaruhi masa depan kita. Akhirnya timbul siklus yang mungkin akan berulang apalagi jika masa lalu itu tak termaafkan, tak tersembuhkan, hanya dipendam dan dikubur tanpa adanya "penerimaan". 

  • Jodoh. 

Hmm..Jodoh? Alasan inilah yang paling mendominasi jika para lajang ditanya asalannya belum menikah. "Belum bertemu jodohnya". Eiits,belum bertemu atau memang belum ikhtiar nih? Jodoh itu bukan hanya ditunggu yah say, tapi harus juga diikhtiarkan dan dijemput. Bagaimana cara menjemput jodoh yang benar? Yah, dengan berusah terus menerus meningkatkan kualitas diri, menata hati, memoles akhlak, Karena janji Allah itu pasti, jodoh adalah cerminan diri kita. Jadi, kalau kamu lagi memperbaiki diri in syaa Allah juga jodohmu melakukan hal yang sama. Jadi "Keep Positive Thinking" to Allah. Dia tahu kapan waktu terbaik untuk mendatangkan jodoh buat kita. Kuncinya, jangan lelah berharap dan  berikhtiar.  

Nah, setelah mengetahui beberapa penghambat nikah diatas, pastinya bisa dong yah menemukan solusi yang akan kita lakukan agar dapat meminimalisir dan memangkas masalah-masalah tersebut agar kita bisa segera melangkah menyempurnakan Dien. Semoga kita semua segera mendapatkan jodoh impian yang kan menikahi karena iman. Amien.

Wednesday, 6 April 2016

My Blog My Diary


Bismillah!
This my first post in this blog.
Actually, saya bukanlah orang baru dalam bidang perbloggeran tanah air. Sebelum ini saya sudah sempat ngelahirin dua blog. Pertama kali bikin blog saat kuliah semester 1 tahun 2007. Waktu itu karena masih jamannya ngalay dan seringnya galau gak jelas, akhirnya blogku hanya diisi dengan curahan hati dan tulisan-tulisan alay sejenisnya* omaigaat, maafkan aku yang dulu ya mak' hehe.

Flash back beberapa tahun yang lalu (sengaja nulis beberapa tahun aja lah yah, karena kalau saya nulis puluhan tahun yang lalu kan kayak udah tua-tua gimana gitu bo'. Halaah..padahal emang udah tuwir kok, udah ngaku ajaa tris..wkwkwk) . 

Kalau dulu waktu jaman-jaman SMP dan SMU seringnya nulis di buku diary, dan karena begitu privacy nya, biar gak dibaca-baca orang buku diaryku pun saya kasih gembok. Maklum bo', takutnya mempermalukanku jika curhatan anak ABG labil sampai bocor, karena itu harus dijaga baik-baik, bahkan bisa dibilang pengamanannya mengalahkan pengamanan soal-soal UAN anak sekolah *kebayang dong gimana privatnya? padahal isinya juga gak jelas banget hahaha

Beberapa tahun kemudian, semakin kesini teknologi semakin maju dan dunia digital semakin berkembang, akhirnya saya mulai beralih juga menulis di blog, karena katanya blog adalah buku diary online. Biar terkesan kekinian, akhirnya sayapun ikut arus membuat blog juga, jadilah blogku dipenuhi curhatan labil bin galau berkepanjangan. Kalau biasanya orang ingin agar blognya ramai dan sering dikunjungi pembaca, beda denganku yang tidak ingin blog ku dibaca orang, biar gak malu-maluin aja, pikirku waktu itu hehe. 

Pernah suatu waktu saya menulis tentang cowok *cieee. Waktu itu saya lagi dekat dengan seorang cowok yang secara tidak sengaja bertemu saat pameran komputer disalah satu mall di Makassar. Kebetulan kampusnya ikut ambil bagian dalam salah satu stand pada pameran itu, stand instalasi Linux kalau saya tidak salah ingat. Begitu lihat demo yang diperagakannya, akhirnya saya pun tertarik menginstall OS Linux di laptopku (padahal boro-boro ngerti, tahu apa itu Linux aja nggak, hanya senang aja lihat tampilan laptop yang tiba-tiba jadi keren gitu, bisa 3D juga). Akhirnya baru sehari dipake, sudah menimbulkan masalah; wifi laptopku gak compatible dengan programnya, bluetoothnya pun tiba-tiba tidak bisa digunakan, dan microsoft officenya ternyata beda juga (beginilah kalau awalnya sok tahu doang wkwkwk). Akhirnya mau tidak mau sayapun melayangkan protes sama cowok ini (padahal ini murni salah gue, kenapa juga tertarik padahal tahu nama OS nya saja baru saat itu hehe). Setelah itu, diapun memprivate saya *padahal saya gak minta diprivate loh, waktu itu saya hanya minta laptopku diinstal ulang aja kembali ke windows*, tapi dia malah dengan sabar ngajarin, katanya itu masih tanggung jawab dia juga karena dia yang mempengaruhi saya. Akhirnya dia beberapa kali kerumah atau seringnya kita janjian di kampus. Entahlah yah apakah gue nya aja yang kegeeran atau gimana, yang jelas cowok ini rajin banget menghubungi *aah..loe aja kali yang kegeeran buk', emang ada yang mau? wkwkwk. Begitu tahu perhatiannya udah agak beda, sayapun pelan-pelan menjauh, bukan karena gak suka dengan perhatian dia, cuma saya gak ingin mikir pacaran, waktu itu mikirnya kuliah aja dah. Titik. 

Pengalamanku dengan cowok inipun sering kujadiin bahan tulisan waktu itu, hingga suatu waktu sepupuku membaca kisahku ini dan gak berhenti mengejek-ngejekku, padahal seingatku blogku sudah kukasih police line deh agar tidak ada orang yang lewat, eeh..ternyata ada yang mampir bahkan sampai nginap pula. Waktu itu rasa-rasanya pengen langsung nyemplung disungai saking malunya hahaha. Akhirnya karena tahu ada "spy" yang sering memperhatikan kegalauanku, blog inipun kumuseumkan dengan meninggalkan kisah memalukannya wkwkwkw. 

Blog kedua saya buat saat tamat kuliah tahun 2010. Sambil menunggu panggilan kerja dan interview saya sering menghabiskan waktu di sosial media dan menulis diblog meskipun tidak setiap hari. Blog yang kedua tidak jauh berbeda nasibnya dengan blog yang pertama, kalau blog yang pertama galaunya masalah cowok dan percintaan, blog yang kedua ini galaunya karena masih pengangguran dan belum dapat kerja wkwkwk. Blog inipun umurnya tidak panjang, karena tidak lama setelah itu, sayapun akhirnya mendapat pekerjaan di rantau yang sinyalnya sekarat. Untuk nelpon saja susah, boro-boro deh mau internetan apalagi ngeblog. Akhirnya rest in peace juga karena terlalu lamanya tidak ditengok, sudah dipenuhi sarang laba-laba dan akhirnya blognya ngambek, saya jadi lupa email dan paswordnya hahaha. Saya bersyukur saat jomblo dan menghadapi masa-masa penantian menunggu sang pangeran saya tidak membuat blog lagi, karena kalau tidak saya khawatir nasibnya akan sama dengan blog-blog sebelumnya yang dipenuhi kegalauan, hanya beda tema saja muehehe. 

Sebenarnya setelah itu saya sempat dibuatin blog lagi sama teman, saat mengikuti Kelas Menulis Online dimana persyaratannya harus menulis diblog untuk menyetorkan tugas setiap hari. Namun, karena sinyal dan waktu yang terbatas akhirnya blogku diadmini temanku itu, jadi saya tiap hari hanya setor tulisan lewat email dia, kemudian dia yang posting diblog, jadi sayapun tidak tahu email dan pasword blog itu. Bukan karena dia gak mau kasih tahu, hanya karena saya merasa nyaman aja ada yang bantu postingin tiap hari, hitung-hitung kerjaan jadi lebih mudah hahaha ( Aneh kan? baru kali ini ada blogger yang tidak tahu email dan pasword blognya). Namun, setelah kelas menulis ini berakhir, akhirnya berakhir jugalah keeksisan blog itu, dan saya tidak pernah lagi tertarik untuk menanyakan email dan paswordnya. 

Bukannya saya tidak mau membuat blog, hanya saja menurutku lingkup dunia tulis menulis bukan hanya sepantaran blog doang kan? Toh di sosial media pun kita masih bisa berkarya dan bahkan mungkin masih lebih banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari tulisan-tulisan kita di sosial media daripada di blog itu  sendiri, pikirku waktu itu. Apalagi saya termasuk penulis yang suka menyisipkan hikmah dan pesan disetiap tulisanku, jadi saya lebih suka menulis di facebook biar ada lebih banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari tulisan-tulisanku

Namun, karena dorongan orang-orang terdekat dan terutama suami untuk mengarsipkan tulisan-tulisanku biar bisa dibaca-baca nantinya, karena kalau nulis di facebook katanya sering tenggelam, akhirnya sayapun mengikuti sarannya. Toh selama tidak melanggar syariat, hukumnya wajib kan mengikuti perintah suami? ^_^

Alhamdulilah akhirnya menetas juga ini blog. Fresh from the oven. Sungguh, very excited bisa melaunchingkan blog ini. Berharap blog ini nasibnya berbeda dengan pendahulu-pendahulunya, dan tetap bisa eksis sepanjang masa.

Semoga dengan adanya blog ini bisa menjadi lahan belajar buat saya, semakin memotivasi saya untuk istiqomah menulis kebaikan dan terutama bisa membuat banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari setiap postingan. Amien.



Entah Apa Yang Merasukimu Bu Sukma

Setelah membandingkan konde dengan cadar, suara kidung dengan azan, sekarang Bu Sukma kumat lagi dengan membandingkan Nabi Muhammad denga...